Apakah “Mengaku” termasuk EYD bahasa Indonesia? teuing agh, lier
Hehehe, bukan itu yang akan dibahas. Tapi saya bertanya dan memberi perintah agar pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur.
coba tanya-ken “Berapa sih gajimu?”, nah pertanyaan yang sulit dijawab ya. Tapi kalau anda mau menjawabnya, wah, saya harus hati-hati, saya tidak bisa percaya begitu saja dengan jawaban anda. Ternyata semua orang yang sudah bekerja kebanyakan “busuk” semua, alias tukang bohong. Percaya tidak? hehehe. Nah berikut ini saya pisahkan pengalaman-pengalaman saya yang “sering dibohongi” (this is because of my stupidness or… whatever lah), perparagraf ya!
Pas waktu sedang KP (Kerja Praktek) tahun 2004 di Toyota Ma^#$*… (TMMIN), saya pernah diberi statement terbuka dari pembimbing KP saya: “Mas kerja di Astra itu enak lho, saya saja dapat bonus gaji 10 kali lipat pertahunnya (istilahnya THR=10x gaji lah), sekarang saja saya gajinya 10 juta”, kata pembimbing KP, urang jawab: “HA! WOW!….. bapak dari alumni mana?”, dia jawab lagi:” oh saya dari ITS”. Nah setelah diselidiki kebenarannya, ternyata gajinya tidak sebesar itu tapi kurang dari 10jt. Tambah lagi dia bukan dari ITS. Tapi, mengenai 10 kali gaji itu katanya beneran lho.
“Berapa gajimu di schlumberger?”, “$10.000″, ternyata setelah diusut-usut 10 juta. Aggh saya jadi hobby ketipu.
“Mas mau tanya, teman saya mau masuk ke perusahaan Pertafenikki, gaji mas berapa biar bisa dipakai teman saya untuk refrensi saat wawancara”, jawabnya “ooh kalau disini aku digaji 50 juta, kalau bos lebih gedean sekitar 80 jutaan.” TERNYATA saat dia melamar ke Foster Wheeler, eh, teman saya ini mengaku kalau gajinya 11 juta saat bekerja di Pertafenikki. Agggh
Nah itu beberapa contoh pengalaman saya sering dibohongi terus, saya tulis 3 pengalaman saja, beside who want to read it more? pity. Meski itu sumber dari teman dekat, tapi belum tentu dia jujur. Hati-hati, hehehe. Lalu tujuannya berbohong itu untuk apa? Ternyata, hal ini untuk menjaga determination mereka… wajar jika itu menjaga nilai jual mereka.